Sabtu, 03 September 2022

Pertama Kali Bapak Ibu ke Bali

Butuh waktu dua tahun sejak ide liburan ini muncul buat terealisasi, setahun pertama terhalang Covid, tahun kedua terhalang waktu.

Ini perjalanan pertama Bapak dan Ibu ke luar pulau, Bali. Ini juga flight pertama Bapak. Keluargaku sangat antusias sama perjalanan ini karena kita ngga pernah liburan sejauh ini sebelumnya hahaa.. sampai-sampai mereka ngater kita ke stasiun.

Dilema liburanku, ngga mau liburan sendirian, sama temen? ngga temen wkk eh kok curhat hahaa lanjut.

Perjalan Bojonegoro Bali ini kita tempuh dengan jalur darat dan udara. Pertama kita naik kereta dari Bojonegoro ke Surabaya, lanjut dengan taksi ke Bandara Juanda, kemudian pesawat ke Denpasar. Terdengar melelahkan bukan? wkkk.. percayalah ini jalur paling tidak melelahkan. 

Kita berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi, kereta berangkat jam 6.30 sampai di Surabaya jam 8.05 pagi, perjalanan ke Bandara sekitar 30 - 60 menit (saat itu hanya 40 menit).  Setibanya di Bandara kita langsung check in dan mengurus bagasi, duduk manis di ruang tunggu menunggu pesawat datang dan menjaga kesabaran karena delay sejam wkkk.

Sesampainya di Ngurah Rai, mobil pesanan kita udah siap, tapi kita memutuskan untuk istirahat sebentar di Bandara untuk sholat. Setelah itu kita lanjut cari makan siang yang searah dengan destinasi pertama, Pantai Suluban. 

Menu pertama kita adalah lupaa hahaa... pokoknya Ibu Bapak makan nasi, dan aku pesen mie. Lanjut perjalanan ke Pantai Suluban. Destinasi ini ku pilih karena sering lihat di Youtube pantainya bagus. Kita semangat 45 berjalan ke arah pantai. 5 menit kemudian kita bertatap-tatapan lalu sama-sama tertawa hahaa... aku merasa bersalah mengajak orang tuaku ke pantai ini, jarak dari parkiran ke pantai memang tidak terlalu jauh tapi tangganya lumayan tinggi gaes, tidak kusarankan kalian kemari sama orang tua. Meskipun lelah dan beberapa kali beristirahat ternyata orang tuaku masih senang. Kita menikmati pantai sambil ngemil Chitato wkkk (tidak penting disebutkan) karena itu masih siang air belum surut (sekitar jam 3) pengunjung yang duduk di tepi pantai sedikit tapi cukup banyak orang yang  berselancar, suasana pantai saat itu teduh karena kanan dan kiri ada karang yang cukup tinggi. 15 - 20 menit kemudian Aku dan Ibu jalan-jalan sekitar pantai itu. Kita akhirnya pindah tempat istirahat di cafe atas (tebing), tempat cukup terik, dari sini kita sibuk memandangi orang-orang berselancar sembari minum air kelapa, es jeruk, dan lupis yang ibu bawa dari Bojonegoro.


                


Jam 4 sore kita melanjutkan perjalanan ke Pura Uluwatu untuk melihat Tari Kecak, karena ada kunjungan G20 kita mendapat jadwal Tari Kecak kloter 2. Oiya untuk lihat tari kecak kalian harus bayar biaya masuk Pura Uluwatu yaa... Nah disini kita ngga jalan banyak mengitari pura, selain karena lelah, kita trauma dengan monyet wkk... Kacamataku diambil cui, kehadiran di monyi ini ngga kerasa dan pas kacamataku diambil ini juga cepet banget, buset dah, copet kalah cepet ama lu monyi. Untungnya kacamataku masih bisa balik berkat ibu pawang, meskipun dengan gopel-gopel dikit di gagang (untung bukan di lensa). Pertunjukan tari kecak selesai sekitar jam 8 malam. Kita lanjut ke hotel, di perjalanan kitamampir makan ke Nasi Pedes Bu Andika. Kita nginep di Kuta, beruntung checkin ngga sampai 5 menit hahaa... Ibuku seneng banget nginep disni karena welcome drinknya wedang jahe.



Esok hari (24 Maret 2022) kita berangkat dari hotel jam 9 pagi. Kali ini jadwal kita cukup padat, destinasi pertama kita adalah Air Terjun Tukad Cepung. Perjalanan sekitar 2 jam dari hotel. Ternyata medannya 3/4nya Pantai Suluban hahaa... karena ada trek yang ngga nanjak dan kita sempat istirahat di warung tengah trek wkk.. 
Lanjut setelah itu kita ke Desa Penglipuran, di sini kita ngga banyak explore tempatnya karena udah capek di Tukad Cepung wkk... dari pintu masuk kita cuma jalan ke kanan poll lalu balik ke parkiran. Kita ngga masuk ke rumah warganya. Selanjutnya kita mau makan siang di Kintamani, kita makan di Tegukopi. Kalau disini aku inget kita makan apa aja wkkk... Ibu makan ikan sambel matah, Aku dan Bapak makan ikan kuah asem, kita juga pesen smoothie. Ini adalah tempat favorit Ibu dan Bapak. Makanan enak, tempatnya adem, pemandangan Gunung Batur saat indah siang itu, plus ngga perlu jalan jauh dari parkiran wkkk. Tadinya aku pengen mampir ke Tegalalang tapi kalau mampir bakal ngga ke kejar sunset, jadi kita langsung balik ke Kuta. Kita parkir di Beach Walk Mall, rencananya mau lihat Sociolla store, katanya Bapak dan Ibu pengen lihat kaya apa bisnis tempat anaknya kerja wkk.. Tapi karena ngga nemu, akhirnya kita cuma beli minum terus lanjut ke pantai. Kita sewa tiker buat duduk, tiker 5 ribuan gaes, kita sewa 2 tiker buat duduk bertiga. Kalo di Suluban kita makan Chitato di Kuta kita makan jagung rebus wkkk... Setelah itu kita langsung balik hotel, karena ngga kepikiran makan dimana, di hotel pun masih belum kepikiran makan apa dan dimana, jadi kita makan di resto hotel.




25 Maret 2022, hari ini yang cukup santai. Kita pindah hotel hari ini, sebelum ke tempat baru kita belanja oleh-oleh sampai siang hari. Tak jauh dari tempat oleh-oleh kita makan ayam betutu, ayamnya kampung jadi Aku dan Bapak ngga perlu was-was habis makan. Setelah itu kita langsung otw ke hotel berikutnya. Lokasinya di Candidasa, Karang Asem sekitar 2 jam dari Kuta, dijalan kita berhenti sebentar untuk makan durian harganya 35ribuan, manis banget dan dagingnya tebel. Penginapan kita kali ini jenis resort, lokasinya pas di pinggir laut. Checkin cukup lama dan ga dapet welcome drink padahal kalau lihat apps ini resort bintangnya lebih tinggi dari hotel sebelumnya, untung kita sabar wkk... aku pesen 2 kamar, tapi karena berjauhan akhirnya satu kamar ngga di pake. Ibu ngga mau aku tidur sendirian dan Bapak ngga mau tidur sendirian jadi ya gitu wkk.. untung kamar Bapak dan Ibu kasurnya king size jadi kita bertiga ngga empet-empetan. Oiya sorenya kita lanjut ke Virgin beach,  ini pantai indah banget bestie, sayangnya kita kesana pas mendung jadi pemandangannya agak gloomy gitu. Sebelum magrib kita sudah balik ke hotel, niatku nginep disana emang buat stay cation ngumpulin tenaga buat balik Bojonegoro. Seperti malam sebelumnya kita makan di resto hotel, malam itu cuma kita pelanggan di restoran malam itu. Bapak pesan nasi goreng dan teh hangat (dapet satu teko), Aku dan Ibu sharing mie goreng dan jus mix fruit.



Setelah sarapan kita bersiap ke Bandara balik ke Bojonegoro. Sebelum ke bandara kita balik ke toko oleh-oleh wkkk. Di perjalanan menuju ruang tunggu, Bapak berhenti di sebuh spot foto yang aku dan Ibu sebelumnya ngga notice ada itu wkk. Jarang-jarang kan Bapak minta di foto in wkk. Kali ini pesawatnya delay lagi wkkk. Kita memesan airport transfer ke bapak taksi sebelumnya, sesampainya di stasiun kita langsung beli tiket kereta, tak lama kereta datang, satu setengah jam kemudian kita sampai di Bojonegoro. Yey... mission complete wkkk...

See you on other holiday stories!!

Kamis, 11 Agustus 2022

Rasanya : Jadi Anak 7 - 12 Tahun

 Kembali lagi dengan Rasanya. Kali ini menceritakan tentang apa yang kurasakan saat umurku 7 - 12 tahun (masa SD).

Ini adalah masa-masa yang amat krusial di hidupku.

Setelah 3 tahun TK, aku masuk SD di umur 7 tahun. Aku di tes membaca dan berhitung, saat itu ibu mengantarku dan terlihat cukup tenang dan senang karena tes berjalan lancar. Syukur, aku lulus dan masuk kelas A. Sekolahku bersebelah dengan sekolah lain, lapangan kami berada di tengah dan ruang kelas mengelilinginya. Aku tidak begitu ingat bagaimana aku menjalani tahun pertama dan kedua, tapi aku cukup ingat di tahun ketiga hingga tahun terakhir.

Saat kelas tiga, kelas kami mendapatkan kelas tambahan (les) dari wali kelas kami, hampir semua anak mengikuti les ini. Saat itu adalah prestasi terbaikku selama SD. Aku peringkat 3. Yey!! hahaa.

Aku juga ingat di tahun itu, ibu membagikan nasi kuning ke teman-teman untuk syukuran ulang tahunku. Saat itu aku sangat senang, akhirnya aku bisa merayakan ulang tahunku seperti teman-teman yang lain. Seorang teman bahkan memberiku hadiah aksesori rambut, karena itu. Keadaan keluarga kami saat itu cukup sulit untuk melakukan hal semacam ini, tapi orang tuaku tetap melakukannya. Aku rasa keputusan mereka saat itu tidak lain karena aku yang sering sedih karena tidak di ijinkan untuk menghadiri acara ulang tahun teman-temanku. Alasannya? when we going to someone birthday, we need to bring present to respect them. Most of the time i can't going there because i can afford things for them.

Ya, begitu. Jadi sering banget tuh yang namanya missing out, ngga ngerti temen-temenku ngomongin apa, ya karena yang di omongin moment yang ngga ada aku. Sedih? dulu iya, jadi outsider itu ngga gampang. 

Time flies. Kelas 4, adalah tahun pertama (dan satu-satunya kalo ngga salah) aku ngga dapet peringkat top 10 di kelas. Sedih? iyalah... sampai disini kalian mesti mikir ini orang udah ambis dari SD, padahal iya. wkk becanda. Setiap kali dapet ranking di kelas, bapak dan ibuku seneng banget cuy ya meskipun ga dapet rangkingpun mereka B aja, jadi kalo ga dapet rangkingkan momentnya ilang wkk... intinya aku jadi seneng belajar karena lihat orang tuaku seneng lihat aku rangking.

Kelas 5, suatu siang saat jam istirahat. Aku beli mie sakura goreng yang di tempatin di gelas pake sumpit ala-ala. Waktu itu beli jajan kaya gitu itu super mewah buat aku cuyyy... ah jajan mewah lainnya adalah sosis goreng apalagi kalo belinya sebuah (biasanya dipotong 2 ya, 1 nya 500 kalo 1 sosis 1000) biasanya aku lebih milih beli tempura di banding sosis, menurutku lebih worth it karena ada rasa ikannya (sosis lebih berasa tepung wkk). Kembali ke mie sakura goreng wkkk. Setelah beli mie, aku meletakan mie itu di mejaku, teman-temanku yang iseng mengatakan akan memakannya or at least ngicipi lahh... tapi somehow aku kesel hahaaa.... terus aku bilang kalo kalian pegang aja bakal kubuang mienya. Kutinggallah mieku sendirian, dan cuci tangan sebentar di kran air depan kelas. Nah masuk masuk temenku iseng tuh megang mieku sambil pura-pura makan atau udah dimakan, aku juga ngga tau wkk... tapi aku kesel hahaa... mie yang belum tentu bisa kebeli dengan uang jajan seminggu ini di makan / diicipin sebalum aku yang ngerasain, aku marah hahaa...  mie goreng sakura gelas mewahku itu aku rebut dari mereka dan kubuang ke sampah dengan marah. Dengan mata berkaca-kaca ku kemasi barang-barangku dan pulang. DRAMA!!! 😂

Nah kalo kalian tanya, kenapa mienya ga dibawa aja? ga bisa bestie karena ngga tau mau di taro dimana pas cuci tangan, yang ada numplek itu mie mewahku, tapi kalo dipikir-pikir lagi ya lebih baik mie itu numplek daripada dibuang ke sampah ya? BODOH 😂

Diperjalanan pulang aku menyesal, dan baru mikir "lo aku ga melu les akhir e, mbolos lak an? sesuk nek di takok i bu guru aku jawab opo? " makin jadi lah saya nangis hahaa... Ngga begitu inget gimana akhirnya respon ibu guru, atau ibuku saat aku pulang. Yang jelas ngga ada yang isengin atau ganguin aku setelah itu dan banyak juga orang yang ngga mau jadi temen setelah itu ya bestie... tapi somehow aku oke-oke aja dengan keadaan itu.

Oiya ada kejadian lain soal makanan, dan  bukan kejadian buruk, tapi tetep DRAMA 😂 hahaaa. To be noted, uang jajan aku terbatas yaa... daripada ngasih uang jajan biasanya ibuku nganter makanan ke sekolah, jadi karena itu jarang dikasih uang jajan. Jadi beli jajan itu adalah momen berharga bagiku, jadi mohon agak pengertiannya soal kejadian mie sakura sebelumnya wkk (ALASAN!! 😂)

Waktu itu aku pengen banget tuh makan martabak yg di kasih susu sama meses ini juga termasuk jajanan mewah yaa (bagiku) harganya kisaran 2-3 ribuan (kalo ngga salah), butuh 3-5 harian nabung buat beli jajan ini. 

Suatu hari akhirnya keturutan tuh buat beli, dengan senang dan hati-hati kubawa martabakku dengan dua tangan, berjalan di koridor menuju kelas. Tiba-tiba sebuah bola sepak menghantam martabaku. Kaget dan lemes, 5 harian nabungku sia-sia, martabak itu bercampur dengan tanah. Coba kalau itu tempura, aku masih bisa cuci dan makan, tapi ini martabak. Kalaupun dicuci kemungkinan tanah-tanahnya udah masuk ke pori-porinya (karena porinya gede). Kira-kira begitulah pikirku sembari menahan tangis melihat martabak itu.

Don't know what to do, aku balik ke kelas. Kali ini aku ngga marah kaya kejadian mie sakura, bahkan ngga sempet lihat muka yang nendang bola saking lemesnya lihat martabakku. Sekuat tenaga nahan tangis pas nyampe kelas, tapi ujungnya nangis juga. Wajahku kuhadapkan meja dan  kusembunyikan dengan melipat siku dua tanganku, ala-ala kalo mau tidur dikelas gitu. 

Beberapa saat kemudian wkkk... ada orang yang dateng ke kelas dan bawain aku martabak yang sama, karena aku malu aku ngga berani lihat muka orang itu cuy... padahal aku ga salah yaa wkk.. aku cuman lirik dikit hahaa... sebatas tau kalau yang nendang bola anak cowok sekolah sebelah, ngga tau kelas berapa. Pas kurasa orangnya udah pergi akhirnya aku ngelirik martabak penganti eyaaa hahaaa, aku ngga inget jumlahnya sama apa ngga, diganti aja aku udah seneng, tapi seingetku mesesnya beda wkkk.. entah kenapa rasanya ngga seenak saat aku ngebayangin makan martabak yang kubeli pake uangku sendiri tadi. Eh apa karena mesesnya beda?? wkk bercanda yaa...

Baiklah kita akhiri soal dunia makanan ini, next.

Kelas 6, kehidupan mulai berat disini cuy. The reality hit me hard hahaa.. canda..

Ini tahun terakhir di SD, tahun dimana kita bukan anak-anak dan bukan remaja hahaa... Tahun dimana aku udah mulai ngerti apa intensi dari omongan orang-orang di sekitarku.

Salah satu kejadian yang membekas, tahun itu adalah tahun pertama ujian nasional diterapkan untuk SD. Saat itu rangkingku lumayan, sekitar 7-8 dari 50an. Waktu itu ada kesempatan try out dari provinsi, tapi buat dapetin kesempatan itu ada seleksi dari kabupaten. Kita tes bareng-bareng semacam ulangan, tapi bakal di koreksi oleh kapupaten. 

Fortunately, aku masuk dalam list orang yang dikasih kesempatan buat try out itu. Aku seneng banget, ngga nyangkakan, nilaiku yang biasanya ngga termasuk bagian terbaik bisa lulus. Otherwise, ini menimbulkan kecurigaan dari temen-temenku dan guru, gimana aku bisa dapet peringkat yang cukup tinggi di tes itu(seingetku aku nomor 3 di kelas dan rangking kabupaten juga cukup baik diluar ekspektasi lah pokoknya). Akhirnya try out provinsi berjalan dan kemudian hasilnya keluar, dan nilaiku B aja di banding 2 temanku yang lain (ngga sebagus di tingkat kabupaten), hasil ini dirangking seprovinsi dan ada rangking sekabupaten juga. Aku ingat ada komentar "nah kan". Seolah B aja adalah nilai yang pantas untukku. Berkat komentar itu (salah satunya), Aku sadar bahwa aku ngga suka dan ngga mau jadi Biasa aja.

Banyak momen di kelas 6 ini yang masih aku inget dan banyak mempengaruhi dan membentuk Eri saat ini, tapi tidak bisa diceritakan semuanya, karena lelah ngetiknya sobat hahaa...

Oke sekian post kali ini, See you!!

Senin, 01 Agustus 2022

Rasanya : Jadi Anak Umur 4-6 Tahun

 26 Oktober 2021 adalah tanggal terakhirku update blog ini, time flies so fast. Post sebelumnya banyak di isi hal informatif, mari sekarang kita curhat di post ini hehee. Post kali ini aku mau cerita, apa yg kurasa setiap bertambah umur. Oiya aku kelahiran 96, salam teman seangkatan!! wkk

Pertama, aku ngga akan cerita dari umur1 tahun dan setiap tahun sampai 2022 yaa... selain bakal lama, ngga inget juga cuy wkk

Sekitar 4-6 tahun, aku adalah siswi TK, seragam favoritku adalah baju terusan warna orange, dengan kemeja lengan pendek berwarna putih. Baju kedua yang aku sukai adalah baju ala-ala pelaut dengan warna putih biru, dan yang terakhir baju paling nyama adalah baju olah raga putih bitu juga warnanya.

Aku seneng banget nonton teletubies tiap pulang dari TK. Duduk manis di depan televisi, sembari menatap matahari berwajah bayi sungguh terasa menyenangkan. Di umur itu aku sering jajan bubur sum-sum di campur komot (bubur ketan hitam, di campur sedikit santan), di jual oleh ibu-ibu dengan gendong, cukup 100-200 rupiah saja. Aku juga ingat menyebrang jalan dan berjalan ke rumah sepulang TK. Aku juga ingat sempat menanam semangka hingga berbuah (seukuran apel) lalu tiba-tiba semangkanya hilang dan kemudian mati. 😐

Hal menyebalkan lainnya adalah saat aku mendapat julukan Jung Ma Ma, salah satu karakter di drama china Putri Hua Zhu. Jung Ma Ma bukan princess yaa... wkkk.. Jung Ma Ma adalah seorang pelayan yang cukup tua dengan sifat yang menyebalkan. Waktu itu aku sering banget nangis gara-gara di panggil Jung Ma. hahaa. Sekarang gimana? Em, tidak peduli hahaa... Sempat terpikir, apa iya dulu aku semenyebalkan itu hahaa... atau apa iya aku jiwaku setua itu sampe di juluki nenek-nenek. bhahaa... Mari kita lanjutkan ceritanya.

Waktu itu, aku juga ingat betapa serunya main obak boy bersama sepupuku. Meskipun selalu jadi pupuk bawang karena terlalu piyek wkk.. aku senang hahaa... terselamatkan dari lemparan bola tenis. 

Setelah menulis sekian paragraf, ngga nyangka kalau aku inget semua itu hahaa... the feeling might not clear but it stay, what a good memories. Kalau kalian gimana? Hal-hal apa yang kalian inget di umur kalian segini?

See You!